Tugas Sistem Informasi Psikologi

Dwi Permata Sari Lutan

12510202

Kelas: 4PA02

Anggota kelompok:

Bunga Ode Kasih

Dwi Permata Sari Lutan

Esa Maniar Riztanti

Ichsan Zul A

Otri Marlian

M. Andriansyah

Puti Alam Intan

Shelli Vellayati

 

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

PSIKOLOGI SOSIAL :

“ LESS AND PREVENT AGGRESSION ”

WEB & APPLICATION

Image

berikut adalah tampilan utama pada saat klien masuk ke dalam website kami. Jika klien sudah memiliki akun, klien langsung login, jika belum maka klien diminta untuk registrasi dahulu dengan memilih register agar semua data dapat masuk ke database. Terdapat tiga pilihan paket yaitu silver, gold, dan platinum. klien diminta memilih paket mana yang diinginkan.

Image

 

 

 

Jika klien memilih paket gold dan telah melakukan pembayaran maka klien bisa langsung mendapatkan konsultasi online denga psikolog kami kemudian setelah itu akan mengisi kuisioner dan akan muncul hasi berupa gambaran umum dan saran untuk klien tentang permasalahan agresinya.

Image

Jika memilih platinum, klien dapat memilih konsultasi secara online atau offline. setelah itu dilakukan pembayaran dan konsultasi dapat dilaksanakan. 

Image

 

selain itu terdapat menu info agar klien tidak bingung. klien dapat melihat pengertian dan video tentang agresivitas.

Image

dan berikut adalah menu tambahan jika klien ingin bertanya kepada kami tentang apa yang tidak dimengerti.

 

 

 

Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Dwi Permata Sari Lutan

12510202

3PA02

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu pendekatan psikoterapi yang paling banyak diterapkan dan telah terbukti efektif dalam mengtatasi berbagai gangguan, termasuk kecemasan dan depresi. Asumsi yang mendasari Cognitive Behavioral Therapy CBT, terutama untuk kasus depresi yaitu bahwa gangguan emosional berasal dari distorsi (penyimpangan) dalam berpikir. Perbaikan dalam keadaan emosi hanya dapat berlangsung lama kalau dicapai perubahan pola-pola berpikir selama proses terapi. Demikian pula pada pasien pola berpikir yang maladaptive (disfungsi kognitif) dan gangguan perilaku. Dengan memahami dan merubah pola tersebut, pasien diharapkan mampu melakukan perubahan cara berpikirnya dan mampu mengendalikan gejala gejala dari gangguan yang dialami.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) berorientasi pada pemecahan masalah dengan terapi yang dipusatkan pada keadaan “disini dan sekarang”, yang memandang individu sebagai pengambil keputusan penting tentang tujuan atau masalah yang akan dipecahkan dalam proses terapi. Dengan cara tersebut, pasien sebagai mitra kerja terapis dalam mengatasi masalahnya dan dengan pemahaman yang memadai tentang teknik yang digunakan untuk mengatasi masalahnya.


Tujuan utama dalam teknik Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah :

  1. Membangkitkan pikiran pikiran negative/ berbahaya, dialog internal atau bicara sendiri (swelf-talk), dan interpretasi terhadap kejadian kejadian yang dialami. Pikiran pikiran negative tersebut muncul secara otomatis, sering diluar kesadarann pasien, apabila menghadapi situasi stress atau mengingat kejadian penting masa lalu. Distorsi kognitif tersebut perilaku maladaptive yang menambah berat masalahnya.
  2. Terapis bersama klien mengumpulkan bukti yang mendukung atau menyanggah interpretasi yang telah diambil. Oleh karena pikiran otomastis sering didasarkan atas kesalahan logika, maka program Cognitive Behavioral Therapy (CBT) diarahkan untuk membantu pasien mengenali dan mengubah distorsi kognitif. Pasien dilatih mengenali pikiranya, dan mendorong untuk menggunakan ketrampilan, menginterpretasikan secara lebih rasional terhadap struktur kognitif yang maladaptive.
  3. Menyusun desain eksperimen (pekerjaan Rumah) untuk menguji validitas interpretasi dan menjaring data tambahan unjtuk diskusi di dalam proses terapi

Fokus Konseling

CBT merupakan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke masa depan dibanding masa lalu. Aspek kognitif dalam CBT antara lain mengubah cara berpikir, kepercayaan, sikap, asumsi, imajinasi dan memfasilitasi konseli belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek kognitif. Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas.

 

Prinsip – Prinsip Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Walaupun konseling harus disesuaikan dengan karakteristik atau permasalahan konseli, tentunya konselor harus memahami prinsip-prinsip yang mendasari CBT. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini diharapkan dapat mempermudah konselor dalam memahami konsep, strategi dalam merencanakan proses konseling dari setiap sesi, serta penerapan teknik-teknik CBT. Berikut adalah prinsip-prinsip dasar dari CBT berdasarkan kajian yang diungkapkan oleh Beck (2011):

 

Prinsip nomor 1: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada formulasi yang terus berkembang dari permasalahan konseli dan konseptualisasi kognitif konseli. Formulasi konseling terus diperbaiki seiring dengan perkembangan evaluasi dari setiap sesi konseling. Pada momen yang strategis, konselor mengkoordinasikan penemuan-penemuan konseptualisasi kognitif konseli yang menyimpang dan meluruskannya sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara berfikir, merasa dan bertindak.

 

Prinsip nomor 2: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada pemahaman yang sama antara konselor dan konseli terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Melalui situasi konseling yang penuh dengan kehangatan, empati, peduli, dan orisinilitas respon terhadap permasalahan konseli akan membuat pemahaman yang sama terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Kondisi tersebut akan menunjukan sebuah keberhasilan dari konseling.

 

Prinsip nomor 3: Cognitive-Behavior Therapy memerlukan kolaborasi dan partisipasi aktif. Menempatkan konseli sebagai tim dalam konseling maka keputusan konseling merupakan keputusan yang disepakati dengan konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti setiap sesi konseling, karena konseli mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.

 

Prinsip nomor 4: Cognitive-Behavior Therapy berorientasi pada tujuan dan berfokus pada permasalahan. Setiap sesi konseling selalu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Melalui evaluasi ini diharapkan adanya respon konseli terhadap pikiran-pikiran yang mengganggu tujuannya, dengan kata lain tetap berfokus pada permasalahan konseli.

 

Prinsip nomor 5: Cognitive-Behavior Therapy berfokus pada kejadiansaat ini. Konseling dimulai dari menganalisis permasalahan konseli pada saat ini dan di sini (here and now). Perhatian konseling beralih pada dua keadaan. Pertama, ketika konseli mengungkapkan sumber kekuatan dalam melakukan kesalahannya. Kedua, ketika konseli terjebak pada proses berfikir yang menyimpang dan keyakinan konseli dimasa lalunya yang berpotensi merubah kepercayaan dan tingkahlaku ke arah yang lebih baik.

 

Prinsip nomor 6: Cognitive-Behavior Therapy merupakan edukasi, bertujuan mengajarkan konseli untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan menekankan pada pencegahan. Sesi pertama CBT mengarahkan konseli untuk mempelajari sifat dan permasalahan yang dihadapinya termasuk proses konseling cognitive-behavior serta model kognitifnya karena CBT meyakini bahwa pikiran mempengaruhi emosi dan perilaku. Konselor membantu menetapkan tujuan konseli, mengidentifikasi dan mengevaluasi proses berfikir serta keyakinan konseli. Kemudian merencanakan rancangan pelatihan untuk perubahan tingkah lakunya.

 

Prinsip nomor 7: Cognitive-Behavior Therapy berlangsung pada waktu yang terbatas. Pada kasus-kasus tertentu, konseling membutuhkan pertemuan antara 6 sampai 14 sesi. Agar proses konseling tidak membutuhkan waktu yang panjang, diharapkan secara kontinyu konselor dapat membantu dan melatih konseli untuk melakukan self-help.

 

Prinsip nomor 8: Sesi Cognitive-Behavior Therapy yang terstruktur.Struktur ini terdiri dari tiga bagian konseling. Bagian awal, menganalisis perasaan dan emosi konseli, menganalisis kejadian yang terjadi dalam satu minggu kebelakang, kemudian menetapkan agenda untuk setiap sesi konseling. Bagian tengah, meninjau pelaksanaan tugas rumah (homework asigment), membahas permasalahan yang muncul dari setiap sesi yang telah berlangsung, serta merancang pekerjaan rumah baru yang akan dilakukan. Bagian akhir, melakukan umpan balik terhadap perkembangan dari setiap sesi konseling. Sesi konseling yang terstruktur ini membuat proses konseling lebih dipahami oleh konseli dan meningkatkan kemungkinan mereka mampu melakukan self-help di akhir sesi konseling.

 

Prinsip nomor 9: Cognitive-Behavior Therapy mengajarkan konseli untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggapi pemikiran disfungsional dan keyakinan mereka. Setiap hari konseli memiliki kesempatan dalam pikiran-pikiran otomatisnya yang akan mempengaruhi suasana hati, emosi dan tingkah laku mereka. Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi pikirannya serta menyesuaikan dengan kondisi realita serta perspektif adaptif yang mengarahkan konseli untuk merasa lebih baik secara emosional, tingkahlaku dan mengurangi kondisi psikologis negatif. Konselor juga menciptakan pengalaman baru yang disebut dengan eksperimen perilaku. Konseli dilatih untuk menciptakan pengalaman barunya dengan cara menguji pemikiran mereka (misalnya: jika saya melihat gambar labalaba, maka akan saya merasa sangat cemas, namun saya pasti bisa menghilangkan perasaan cemas tersebut dan dapat melaluinya dengan baik). Dengan cara ini, konselor terlibat dalam eksperimen kolaboratif. Konselor dan konseli bersama-sama menguji pemikiran konseli untuk mengembangkan respon yang lebih bermanfaat dan akurat.

 

Prinsip nomor 10: Cognitive-Behavior Therapy menggunakan berbagai teknik untuk merubah pemikiran, perasaan, dan tingkah laku. Pertanyaanpertanyaan yang berbentuk sokratik memudahkan konselor dalam melakukan konseling cognitive-behavior. Pertanyaan dalam bentuk sokratik merupakan inti atau kunci dari proses evaluasi konseling. Dalam proses konseling, CBT tidak mempermasalahkan konselor menggunakan teknik-teknik dalam konseling lain seperti kenik Gestalt, Psikodinamik, Psikoanalisis, selama teknik tersebut membantu proses konseling yang lebih saingkat dan memudahkan konelor dalam membantu konseli. Jenis teknik yang dipilih akan dipengaruhi oleh konseptualisasi konselor tehadap konseli, masalah yang sedang ditangani, dan tujuan konselor dalam sesi konseling tersebut.

 

Dengan demikian Cognitive Behavioral Therapy CBT diharapkan berperan sebagai mekanisme proteksi agar kecemasan dan depresi tidak mengancam, karena pasien belajar mengatasi factor factor yang menyebabkan munculnya gangguan.

 

Sumber:

John and Rita Sommers,  Counseling and Psychotherapy theories in context and practice, John Wiley & Sons, Inc, 2004, New Jersey. 

http://konselorindonesia.blogspot.com/2012/04/cognitive-behavior-therapy-cbt.html

http://perawatpskiatri.blogspot.com/2009/02/cognitive-behavioral-therapy-cbt.html

Rational Emotive Theory

Dwi Permata Sari Lutan

12510202

3pa02

 

Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif ini menitik beratkan manusia kepada tindakan berpikir, menilai, menganalisa, dan bertindak.

A. Konsep-Konsep Utama
Terapi rasional emotif adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi hitam dan putih. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Sebaliknya, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. 
Terapi rasional emotif menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. 
Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.[1]

Unsur pokok terapi rasional-emotif 
Menurut Ellis unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah melainkan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran.
Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif.

Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena: 
1. Terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas, 
2. Orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi, 
3. Orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.

B. Terapi Rasional – Emotif dan Teori Kepribadian
Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa “gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah”.
Terapi rasional emotif berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.

C. Tujuan Terapeutik
Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam terapi rasional emotif yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : ” meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik”. Tujuan psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka.
Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.Tujuan dari Rational Emotive Theory adalah:
1. Memperbaiki dan mengubah segala perilaku yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.
2. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak
3. Untuk membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance, Acceptance of Uncertainty, Fleksibel, Commitment, Scientific Thinking, Risk Taking, dan Self Acceptance Klien.

D. Teori A-B-C tentang Kepibadian
Terapi rasional emotif dimulai dengan ABC:
a. Activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-ke-sulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penye¬bab ketidak bahagiaan.
b. Beliefs, yaitu keyakinan-ke¬yakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita.
c. Consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-¬keyakinan kita yang keliru.
Tindakan palilng efisien untuk membantu orang-orang dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah dengan mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana cara berfikir secara logis, sehingga mengajari mereka untuk mampu mengubah atau bahkan menghapuskan keyakinan-keyakinan irasionalnya.
Selanjutnya, teori kepribadian A-B-C ini berkembang menjadi A-B-C-D. Dimana D merupakan pembahasan dan mengubah reaksi irasional dari C.[2]

E. Fungsi dan Peran Terapis
Aktifitas-aktifitas therapeutic utama terapi rasional emotif dilaksanakan dengan satu maksud utama, yaitu : membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dagmatis yang rasional dan takhyul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, terapis memiliki tugas-tugas yang spesifik yaitu :
1. Mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku.
2. Menantang klien untuk menguji gagasan-gagasannya.
3. Menunjukkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya.
4. Menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien.
5. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan-keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan.
6. Menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien
7. Menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris, dan
8. Mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara bepiki sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan iasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekaang maupun masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang merusak diri.

F. Hubungan antara Terapis dan Klien
Teapis berfungsi sebagai guu dan klien sebagai murid. Hubunagn pribadi antara terapis dan klien tidak esensial. Klien memperoleh pemahaman atas masalah dirinya dan kemudian harus secara aktif menjalankan pengubahan tingkah laku yang mengalahkan diri.

G. Teknik-Teknik dan Prosedur-Prosedur Utama
Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur – prosedurnya difokuskan pada kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya mencapai keberhasilan dalam hidup. Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, teapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :
1. Terlibat dalam permainan peran dengan klien.
2. Menggunakan humor.
3. Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun.
4. Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang sesifik bagi tindakan.
5. Bertindak sebagai model dan guru.
6. Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi.
7. Menggunakan “terapi kejutan vebal” atau sarkasme yang layak untuk mengkonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis.
8. Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
9. Manusia berfikir, berperasaan dan bertindak secara serentak. Kaitan yang begitu erat menyebabkan jika salah satu saja menerima gangguan maka yang lain akan terlibat sama. Jika salah satu diobati sehingga sembuh, dengan sendirinya yang dua lagi akan turut terobati.

Dalam terapi rasional emotif, terdapat tiga teknik yang besar: 
1. Teknik-Teknik Kognitif
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Ada empat teknik besar dalam teknik-teknik kognitif :
a. Teknik Pengajaran -Teknik ini memberikan keleluasan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogikan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.
b. Teknik Persuasif – Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya kerana pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.
c. Teknik Konfrontasi – Konselor menyerang ketidaklogikan berfikir klien dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logik.
d. Teknik Pemberian Tugas – Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir [3]

2. Teknik-Teknik Emotif
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:
a. Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan. 
b. Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis. 
c. Self Modeling, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. 
d. Imitasi, yakni teknik yang digunakan di mana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.[4]

3. Teknik-Teknik Behavioristik
Teknik ini khusus untuk mengubah tingkah laku pelajar yang tidak diingini. Antara teknik ini ialah:
a. Teknik Reinforcement – Mendorong klien ke arah perilaku yang diingini dengan jalan memberi pujian dan hukuman. Pujian pada perilaku yang betul dan hukuman pada perilaku negatif yang dikekalkan.
b. Teknik Social Modelling – Digunakan membentuk perilaku baru pada klien melalui peniruan, pemerhatian terhadap Model Hidup atau Model Simbolik dari segi percakapan dan interaksi serta pemecahan masalah.
Berdasarkan kepada penjelasan teknik di atas, dapat dilihat bahawa teknik terapi terapi rasional emotif ini bukan saja terbatas pada sisi konseling, tetapi juga berlaku di luar sesi konseling.[5]
H. Penerapan dan Sumbangan Terapi Rasional Emotif
Pendekatan ini pada menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari gangguan-gangguan pribadi. Sumbangan utamanya adalah penekananya pada keharusan praktek dan bertindak menuju perubahan tingkah laku masalah.

I. Kebaikan dan Kelemahan Terapi Rasional Emotif 
Kebaikan
1. Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh klien. Dengan itu perawatan juga dapat dilakukan dengan cepat.
2. Kaedah pemikiran logik yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi gejala yang lain.
3. Klien merasakan diri mereka mempunyai keupayaan intelektual dan kemajuan dari cara berfikir.
Kelemahan
1. Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logik dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu geliga otaknya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika.
2. Ada setengah klien yang begitu terpisah dari realiti sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai.
3. Ada juga klien yang terlalu berprasangka terhadap logik, sehingga sukar untuk mereka menerima analisa logik.
4. Ada juga setengah klien yang memang suka mengalami gangguan emosi dan bergantung kepadanya di dalam hidupnya, dan tidak mahu membuat apa-apa perubahan lagi dalam hidup mereka.

J. Langkah-Langkah Terapi Rasional Emotif
1) Langkah pertama
Konselor berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang di alami nya.
2) Langkah kedua
Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan.
3) Langkah ketiga
Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara berfikir yang tidak logis
4) Langkah keempat
Dalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.[6]

K. Ciri-Ciri Terapi Rasional Emotif
Ciri-ciri terapi rasional emotif dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Dalam menelusuri masalah klien yang di bantu nya, konselor berperan lebih aktif di bandingkan klien. Maksudnya adalah bahwasannya peran konselor disini harus bersikap efektif dan memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang di hadapi klien dan bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah yang di hadapi artinya konselor harus melibatkan diri dan berusaha menolong kliennya supaya dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan di sesuaikan dengan potensi yang di miliki nya.
2. Dalam proses hubungan konseling harus tetap di ciptakan dan di pelihara hubungan baik dengan klien.
Dengan sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan mempunyai pengaruh yang penting demi suksesnya proses konseling sehingga dengan terciptanya proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.
3. Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini di pergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah Cara berfikirnya yang tidak rasional menjadi rasional.
4. Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.
5. Diagnosis (rumusan masalah) yang di lakukan dalam konseling rasional emotif bertujuan untuk membuka ketidak logisan cara berfikir klien.
Dengan melihat permasalahan yang di hadapi klien dan faktor penyebabnya, yakni menyangkut cara pikir klien yang tidak rasional dalam menghadapi masalah, yang pada intinya menunjukkan bahwa cara berpikir yang tidak logis itu sebenarnya menjadi penyebab gangguan emosionalnya

sumber:

http://titah8221.blogspot.com/2011/10/bimbingan-dan-konseling-rational.html

http://faizperjuangan.wordpress.com/2009/03/11/resume-teori-pendekatan-konseling-rational-emotive-therapy/

http://susanhijriani.blogspot.com

Analisis Transaksional

Dwi Permata Sari Lutan

12510202

3pa02

ANALISIS TRANSAKSIONAL

 

Pendekatan analisis transaksional dipelopori oleh Erick Berne dan dikembangkan semenjak tahun 1950. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak.

Analisis transaksional berpendapat bahwa dalam kepribadian seseorang terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan. Pendekatan ini juga menekankan fungsi dan pendekatan ego.

STRUKTUR KEPRIBADIAN

Analisis transaksional meyakini pada diri individu terdapat unsure-unsur  kepribadian yang terstruktur dan itu  meruakan satu kesatuan yang disebut dengan “ego state”. Adapun unsur kepribadian itu terdiri dari:

1.    Ego state child

Pernyataan ego dengan ciri kepribadian anak-anak seperti bersifat manja, riang, lincah dan rewel. Tiga bagian dari ego state child ini ialah: 

a)   Adapted child (kekanak-kanakan)

Unsure ini kurang baik ditampilkan saat komunikasi karena banyak orang tidak menyukai dan hal ini menujukkan ketidak matangan dalam sentuhan.

b)   Natural child (anak yang alamiah)

Natural child ini banyak disenangi oleh orang lain karena sifatnya yang alamiah dan tidak dibuat-buat serta tidak berpura-pura, dan kebanyakan orang senang pada saat terjadinya transaksi.

c)    Little professor

Unsur ini ditampilkan oleh seseorang untuk membuat suasana riang gembira dan menyenangkan padahal apapun yang dilakukannya itu tidaklah menunjukkan kebenaran.

2.    Ego state parent

Ciri kepribadian yang diwarnai oleh siafat banyak menasehati, memerintah dan menunjukkan kekuasaannya. Ego state parent ini terbagi dua yaitu:

a)     Critical parent

Bagian ini dinilai sebagai bagian kepriadian yang kurang baik, seperti menujukkan sifat judes, cerewet, dll.

b)   Nurturing parent

Penampilan ego state seperti ini baik seperti merawat dan lain sebagianya.

3.    Ego state adult

Berorientasi kepada fakta dan selalu diwarnai pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana.

   Dengan demikian untuk kita ketahui bahwasanya dalam tiap individu ego state yang tiga diatas selalu ada yang berbeda Cuma kadarnya saja. Berapa banyak ego state yang ada dalam individu akan mempengaruhi tingkah lakuorang tersebut.

Berdasarkan keberadaan ego state terdapat tiga komposisi yang ada dalam diri individu adalah:

1.  Ego state normal

Sesuai dengan situasi dan kondisi dimana orang itu berada. Penampilan ego state yang normal ini dapat dilihat dalam suasana yang serius.

2.  Ego state kaku

Ego state yang ditmpilaknnya tidak berbeda tetapi hanya satu saja.

3.  Ego state cair

Tidak ada batasan antara penampilan ego state yang satu dengan yang lain.

 

MOTIVASI HIDUP

Hansen (dalam Taufik, 2000:101) membagi kebutuhan psikologis manusia menjadi tiga bagian menurut analisis transaksional yaitu:

1.    Kebutuhan akan memperoleh rangsangan

Sentuhan yang diberika bisa bersifat jasmaniah(salaman, tepukan,belaian), rohaniah (perhatian, senyuman, sapaan), positif (pujian, sanjungan)maupun negative(ejekan, cemoohan, hinaan).

Sentuhan akan memberikan warna tersendiri bagi individu, jika sentuhan itu bersifat sistematis maka anak-akan menerima apa adanya. Misalnya anak yang biasa mendengar kata-kata kasar dari orang tua, apabila dia tidak mendengar kata-kata tersebut maka ia akan merasakan keanehan.

2.    Kebutuhan untuk menstruktur waktu

Enam bentuk hubungan yang dipilih seseorang dalam mencari sentuhan;

a)    With drawl

Memutuskan hubungan atau hubungan menarik diri. Individu mencari sentuhan dengan berbicara sendiri, berfantasi.

b)   Ritual

Individu melaukan hubungan social untuk memperoleh sentuhan dengan sedikit modal energy  atau juga melihat sedikit resiko.

c)    Pas time

Individu mencari sentuhan dengn melalukan waktu\membiarkan waktu berlalu tanpa sesuatu yang jelas.

d)   Activity

Melakukan suatu kegiatan dimana dalam kegiatan itu diperoleh sentuhan.

e)    Games

Individu yang berupaya memperoleh sentuhan dengan cara melakukan permainan dengan orang lain.

f)    Intimacy

Individu memperoleh sentuhan dengan melakukan hubungan intim baik dengan individu lain ataupun dengan benda.

3.    Kebutuhan untuk memperoleh posisi hidup

Analisis transaksional menurut A.Harris dalam Taufik (2009) membagi empat posisi hidup yang sering dipilih oleh seseorang yaitu;

a)    Saya OK kamu OK

Posisi ini ialah posisi yang dipilih oleh seseorang apabila ia merasa beres dan orang lain juga beres. Hubungannya yang terjadi bersifat evolusioner  yaitu berubah secara lambat.

b)        Saya OK kamu tidak OK

Posisi ini dipilih oleh seseorang apabila ia merasa posisinya beres dan posisi orang lain tidak beres. Hubungan ini cendrung untuk merubah pihak kedua dan bersifat revolusioner yaitu perubahan secara cepat.  

c)    Saya tidak OK kamu OK

Orang yang berada dalam posisi ini ialah orang yang merasa dirinya tidak beres dan orang lainlah yang beres. Sifat hubungannya ini devolusioner yaitu berubah secara lambat. Biasanya orang yang memilih posisi ini mempunyai sifat rendah diri.

d)   Saya tidak OK kamu tidak OK

Orang yang berada pada posisi ini merasa dirinya tidak beres dan orang lain pun dirasaka tidak beres. Hubungannya tidak jelas yaitu siapa yang mengubah siapa yang bersifat obvolusioner.

 

JENIS-JENIS TRANSAKSI

Gerald Corey (dalam Taufik, 2009:108) membagi jenis transaksi menjadi tiga bagian yaitu:

1.         Transaksi sejajar

Individu yang berkomunikasi dengan menggunakan ego state tertentu sehingganya respon yang ditampilakan oleh orang lain sesuai dengan yang diharapkan

2.    Transaksi silang

Penampilan ego state seseorang sehingganya respon yang diberikan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

3.    Transaksi terselubung

Penampilan ego state seseorang yang dalam komunikasi yang memiliki tujuan terselubung dari maksud pembicaraannya.

 

   PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN YANG SEHAT

Ciri-ciri kepribadian yang sehat menurut Hansen (dalam Taufik, 2009;111) adalah:

1. Individu dapat menampilkan ego statenya secara luwes sesuai dengan tempat ia berada

2. Individu berusaha menemukan naskah hidupnya secara bebas serta memungkinkan pula ia memperoleh sentuhan secara bebas pula.

3.    Memilih posisi hidup revolusioner, saya OK kamu Ok

4.    Ego statenya bersifat fleksibel tidak kaku dan tidak pul cair.

 

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN YANG ABNORMAL

Masih dalam buku sumber yang sama cirri kepribadian yang abnormal ialah:

1.  Kecendrungan untuk memilih posisi devolusioner, obvolusioner dan pada dirinya ada unsure tidak Ok

2.    Kecenderungan untuk menggunakan ego state yang tunggal

3.    Ego state yang ditampilkannya terlalu cair

4.    Ego statenya tercemar.

 

TUJUAN DAN PROSES KONSELING

Adapun tujuan dari konseling ini ialah:

1.    Mendekontaminasikan ego state yang terganggu

2.    Membantu mengunakan ketiga ego state yang terganggu

3.    Membantu menggunakan ego state adult secara optimal

4.    Mendorong berkembangnya life position SOKO dan lifi script baru dan produktif.

 

Berikut ini akan dibahas hal-hal yang harus diperhatikan konselor dalam melakukan konseling dengan menggunakan analisis transaksional.

1.    Analisis struktur

Menjelaskan kepada klien bahwasanya kita sebagai indvidu mengemban tiga ego state dan menjelaskan tentang ego state itu satu persatu, sehingganya individu itu sadar ego state yang mana yang lebih dominan dalam dirinya.

2.    Analisis transaksional

Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingganya konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau  belum.

3.    Analisis permainan

Konselor menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh klien untuk mendapat sentuhan, setelah itu dilihat apakah kline mampu menanggung resiko atau malah bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.

4.    Analisis naskah hidup

Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya kliennya terjangkiti posisi hidup yang tidak sehat.

 

TEKNIK-TEKNIK KONSELING

Teknik konseling yang digunakan adalah:

1. Permission

Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya

2. Protection

Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya.

3. Potency

Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction yang diberikan orang tuanya.

4. Operation

a). Interrogation

Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada diri klien sehingganya berkembang  respon adult dalam dirinya.

b). Specification

Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien paham tentang ego statenya.

c). Confrontation

Menunjukkan  kesenjangan atau ketidak beresan pada diri klien

d). Explanation

Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini terjadi (konselor mengajar klien)

e). Illustration

Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya digunakan  secara tepat.  

f).  Confirmation

Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.

g). Interpretation

Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya

h). Crystallization

Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke yang diperlukannya.

 

KEKUATAN DAN KELEMAHAN KONSTRAN

Beberapa kekuatan konseling analisis transaksional menurut Muhammad Surya (2003:46) yaitu :

1.  Terminology yang sederhana dapat dipelajari dengan mudah diterapkan dengan segera pada perilaku yang kompleks

2.  Klien diharapkan dan didorong untuk moncoba dalam hubungan di luar ruang konseling untuk mengubah tingkah laku yang salah

3. Perilaku klien disini dan sekarang, merupakan cara untuk membawa perbaikan klien.

4.   Penekanan pada pengalaman masa kini dan lingkungan sosial.

 

sumber:

http://counselingcare.blogspot.com/2012/06/konseling-analisis-transaksional.html

http://beequinn.wordpress.com/nursing/komunikasi-keperawatan/analisis-transaksional/

Logotherapy

Dwi Permata Sari

12510202

3pa02

Logotherapy

Logotherapy merupakan suatu pendekatan psikologis yang dikembangkan oleh Viktor E. Frankl, seorang neurolog dan psikiater yang pernah mendekan di kamp konsentrasi pada masa Nazi di tahun 40-an dan kehilangan istri dan banyak anggota keluarganya yang mati di kamp konsentrasi tersebut. . ‘Logos’ sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘makna’.

Ia berpendapat bahwa manusia mempunyai dorongan atau motivasi yang terarah pada pencarian makna hidup. Hal ini berbeda dengan konsep psikologi lainnya seperti pendapat bahwa dorongan utama manusia adalah mencari kekuasaan (will of power) atau mencari kesenangan (the will of pleasure) .

Terdapat  beberapa pendapat fundamental dalam Logotherapy. Pertama, bahwa manusia bersifat unik dan memiliki karakterisik dan potensi individual yang unik pula. Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mencari makna hidupnya, sekaligus manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Ketiga, bahwa manusia dapat menemukan makna hidup dalam kondisi apa pun, walaupun kondisi tersebut tidak menyenangkan.

Di dalam kamp konsentrasi itu sendiri, Frankl bahkan sempat mengembangkan teorinya dan menulis materi yang kelak diterbitkan menjadi buku ‘The doctor and the soul’. Selain itu, ia juga melakukan ‘terapi’ dalam kamp tersebut terhadap penghuni yang sudah putus asa dan tidak berpengharapan sama-sekali .

 

PENDEKATAN FRANKL TERHADAP KEPRIBADIAN

Frankl menekankan pentingnya kemauan akan arti. Logotherapi berbicara tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan arti, juga teknik-teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Awalnya logotherapy adalah suatu metode psikoterapi untuk menangani orang-orang yang kehidupannya kehilangan arti. Logotherapy lebih merupakan teknik daripada teori.  Teori tentang kodrat manusia, dibangun dalam tiga tiang yakni kebebasan kemauan, kemauan akan arti, dan arti kehidupan.  Frankl sangat menentang pendirian-pendirian dalam psikologi tentang kondisi manusia yang ditentukan oleh instink-instink biologis atau konflik-konflik masa kanak-kanak atau suatu kekuatan lain dari luar. Meskipun kita tunduk kepada kondisi-kondisi dari luar yang mempengaruhi kehidupan kita, namun kita bebas memilih reaksi kita terhadap kondisi itu. Arti dari kehidupan adalah kebutuhan kita yang terus menerus mencari arti (bukan diri) untuk memberi suatu maksud bagi eksistensi kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, dengan mengarahkan pada suatu tujuan, maka semakin kita menjadi manusia sepenuhnya.  Arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya segera setelah ditemukan. Kekurangan arti dalam kehidupan, merupakan suatu neurosis. Frankl menyebutnya sebagai noogenik neurosis, yakni suatu keadaan yang bercirikan tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, dan hampa. Noogenik neurosis sebagai akibat dari dua kondisi, yaknik ketika tingkah laku yang biasanya dibimbing oleh instink-instink, kali ini tidak lagi karena kita harus secara aktif memilih apa yang harus kita lakukan. Juga ketika kekuatan-kekuatan agama yang teratur dan adat kebiasaan sosial mulai menyusut.  Pemecahan Frankl terhadap noogenic neurosis adalah kita masing-masing harus menemukan atau mendapat kembali pengertian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Logotherapy mengemukakan tiga cara bagaimana kita dapat memberi arti bagi kehidupan.
1. Dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan;
2. Dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman; dan
3. Dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.

KODRAT EKSISTENSI MANUSIA YANG SEHAT
Hakikat dari eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor: spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab. Spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dirumuskan, tapi mungkin paling baik kita dapat memikirkannya sebagai roh atau jiwa.  Kebebasan dalam sistem Frankl diartikan bahwa kita tidak didikte oleh faktor-faktor non spiritual (ex. instink, warisan kita yang khsusus), melainkan kita bebas untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku.  Akhirnya, tidak cukup merasa bebas untuk memilih tetapi kita harus juga menerima tanggung jawab atas pilihannya yang diambil itu. Orang yang sehat akan memikul tanggung jawab ini, menggunakan waktu mereka dengan bijaksana agar karya mereka (kehidupan) tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan singkat dan fana.  Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang.

DORONGAN KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Satu dorongan yang paling fundamental adalah kemauan akan arti yang begitu kuat sampai mengalahkan semua dorongan lain pada manusia. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan.  Arti kehidupan sungguh-sungguh khas dan istimewa, yang tentunya berbeda dari orang yang satu dengan orang lain, dan bahkan dari momen yang satu dengan momen yang berikutnya.  Tugas-tugas dan nasib-nasib adalah unik bagi individu-individu dan periode-periode waktu, maka setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk memberikan respon.  Kita harus menemukan arti kehidupan yang cocok untuk kita masing-masing.  Setiap situasi adalah baru dan membutuhkan suatu respon tersendiri. Masalah bagi kita adalah, bukan bahwa beberapa situasi tidak mempunyai arti, tetapi bagaimana menemukan arti tersebut. Sebab menurut Frankl, semua situasi mempunyai arti tinggal bagaimana kita dapat menemukan arti tersebut atau tidak.  Orang-orang yang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti bagi kehidupan. Orang ini terus menerus berhadapan dengan tantangan untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Nilai-nilai (seperti seperti arti kehidupan yang dituju), adalah unik bagi setiap orang dan situasi. Ada tiga sistem nilai yang fundamental yang berhubungan dengan tiga cara memberi arti kehidupan.
1. Nilai-nilai daya cipta, diwujudkan dalam aktivitas kreatif dan produktif, seperti pekerjaan. Arti diberikan pada kehidupan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan, atau dengan melayani orang-orang lain.
2. Nilai-nilai pengalaman, menyangkut penerimaan dari dunia. Diungkapkan dengan menyerahkan diri sendiri kepada keindahan dalam dunia alam atau seni. Arti kehidupan tidak harus dicapai dengan cara individu tersebut melakukan suatu tindakan yang positif, tetapi cukup dengan mengalaminya secara intensif. 
Satu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan seseorang dengan arti. Bukan berapa banyak puncak yang dapat kita capai, tetapi intensitas yang kita alami terhadap hal-hal yang kita miliki.
3. Nilai-nilai sikap. Frankl percaya bahwa nasib kita yang objektif tidak sama sekali mengecewakan dan destruktif. Justru dari situasi-situasi yang sangat buruk, yang menimbulkan keputusasaan, dan tampaknya tidak ada harapan, dilihat Frankl sebagai situasi-situasi yang memberikan kita kesempatan yang sangat besar untuk menemukan arti. Situasi yang menimbulkan nilai-nilai sikap adalah situasi-situasi dimana kita tak mampu untuk mengubahnya atau menghindarinya. Satu-satunya cara yang rasional untuk memberikan respon kepadanya adalah menerimanya. Orang-orang yang menemukan arti dalam kehidupan mencapai keadaan trasendensi-diri, keadaan ada yang terakhir untuk kepribadian yang sehat. 

KODRAT ORANG YANG MENGATASI DIRI
Orang yang sehat secara psikologis telah bergerak ke luar atau melampaui fokus pada diri. Misalnya ketika seseorang yang matanya tertutup oleh katarak. Jika berfokus pada diri, maka ia tidak akan memiliki arti karena mata telah kehilangan fungsinya untuk melihat. Namun, penglihatang di luar diri adalah mengatasi diri. Mata haruslah berurusan hanya dengan sesuatu di luar dirinya supaya ia dapar berfungsi. Misalnya dengan melakukan hal-hal bermakna, dengan keterbatasannya. Frankl menolak perjuangan manusia untuk membangun setiap keadaan atau aktualisasi, sebab ia percaya bahwa mengejar tujuan semata-mata dalam diri adalah merusak diri. Kehidupan yang hanya diarahkan untuk mengejar kebahagiaan, maka hakikatnya ia tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Kenikmatan dan kebahagiaan terjadi dan menambahkan kesenangan hidup, tetapi kenikmatan dan kebahagiaan bukanlah tujuan hidup. Kebahagiaan tidak dapat dikejar dan ditangkap, biasanya timbul secara spontan dari pemenuhan arti, dari pencapaian tujuan di luar diri. Jadi, cara satu-satunya untuk mengaktualisasikan diri adalah melalui pemenuhan arti di luar diri. Frankl menyetujui pandangan Maslow, bahwa cara yang paling baik untuk mencapai aktualisasi diri adalah melalui komitmen terhadap pekerjaan, yakni sesuatu di luar diri. Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat-sifat kepribadian yang sehat, akan tetapi secara umum gambaran macam apa orang yang sehat itu:
1. Mereka bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri.
2. Mereka secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikap yang mereka anut terhadap nasib mereka.
3. Mereka tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar diri mereka.
4. Mereka telah menemukan arti dalam kehidupan yang cocok dengan mereka.
5. Mereka secara sadar mengontrol kehidupan mereka.
6. Mereka mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, niali-nilai pengalaman, atau nilai-nilai sikap.
7. Mereka telah mengatasi perhatian terhadap diri. 

Pribadi yang sehat berorientasi pada masa depan, diarahkan pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang akan datang. Kita harus memiliki alasan untuk meneruskan kehidupan, untuk menyelesaikan tujuan-tujuan yang akan datang, kalau tidak kehidupan akan kehilangan arti. Segi yang penting dari pekerjaan adalah bukan isi dari pekerjaan tersebut, melainkan cara bagaimana kita melakukannya. 

sumber: 

http://raymondsetiawan.wordpress.com/2009/09/02/logotherapy-penemuan-makna-hidup/

http://adib-asrori.blogspot.com/p/frankl.html

 

 

Person Centered Therapy

Person Centered Therapy

Pendekatan person centered didasarkan pada konsep psikologi humanistik. Sebagai penggagas pendekatan ini adalah Carl Rogers. Sebagai penggagas, Carl Rogers tidak ingin menjadikan pendekatan ini sekedar dogma, ia menginginkan pendekatan ini terus tumbuh, terbuka, dan mau menerima perubahan. Prinsip inilah yang menjadikan person centered mengalami empat periode perkembangan.

 

Periode pertama:

Periode ini berlangsung pada kurun waktu 1940-an. Carl Rogers mengembangkan nondirective counseling sebagai reaksi dari pendekatan directive dan terapi psikoanalitik tradisional.

 

Periode kedua.

Pada periode kedua ini, yang berlangsung sekitar tahun 1950-an, pendekatan nondirective counseling diubah menjadi client centered therapy sebagai refleksi penekanan pada klien daripada metode nondirective. Periode kedua ini ditandai dengan bergantinya teknik klarifikasi perasaan-perasaan kearah lebih fokus pada dunia fenomenologis konseli.

 

Periode ketiga.

Periode ketiga ini berjalan antara tahun 1950 – 1970-an. Selama periode ini Carl Rogers memusatkan kajiannya pada bagaimana kemajuan individu dalam proses psikoterapi dengan memfokuskan studi apakah kualitas hubungan konselor-konseli berbanding lurus dengan perubahan kepribadian. Pada periode ini prinsip person centered therapy mulai dikenalkan pada dunia pendidikan, yang dikenal dengan pendekatan pembelajaran student centered teaching.

 

Periode keempat.

Periode ini berlangsung antara tahun 1980 – 1990-an. Periode ini ditandai dengan ekspansi pendekatan ini dalam dunia pendidikan, industri, kelompok, resolusi konflik, dan lebih luas lagi yaitu upaya-upaya untuk pencapaian perdamaian dunia.

 

Karakteristik Dasar Konseling

      Konseling dengan pendekatan person-centered therapy, menekankan beberapa karakteristik utama, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Pada dasarnya, konseli yang ada dalam konseling memiliki daya potensi yang kreatif
  2. Konseling dan terapi seharusnya hanya membantu konseli untuk menerima keunikan dirinya dibandingkan dengan orang lain serta memperoleh kepercayaan dirinya
  3. Konseli dalam proses konseling merupakan tokoh pusat (central figure), sedangkan fungsi konselor hanyalah untuk membantu konseli mengakses kekuatan daya kreasi mereka, agar mereka bisa mengeluarkannya dan memanfaatkaanya secara lebih optimal
  4. Konselor seharusnya dalam proses konseling tidak mencari-cari kesempatan untuk mendidik atau mengajar konseli
  5. Konselor bekerja ketika konseli sudah sepenuhnya memahami dan mengalami apa yang terjadi di masa sekarang sesuai dengan pengaturan atau setting konseling
  6. Konselor hendaknya menghormati konseli apa adanya
  7. Konselor hendaknya mempercayai konseli sesungguhnya

 

 Beberapa poin yang bisa digunakan untuk menunjang perubahan kepribadian konseli dalam person-centered therapy adalah sebagai berikut :

1.   Ada dua orang dalam kontak psikologis

2.  Orang pertama disebut sebagai klien/ konseli yang berada pada tahap yang inkongruen, mudah dipengaruhi, dan cemas atau khawatir

3.   Orang kedua yang dinamakan konselor adalah orang yang kongruen dan terintegrasi dalam hubungan tersebut

4.   Konselor memberikan penghargaan positif tidak bersyarat pada konseli

5.   Konseli melakukan pemahaman empati sesuai dengan kerangkan berpikir konseli tanpa harus terhanyut dalam dunia konseli dan berusaha untuk mengkomunikasikan empatinya tersebut pada konseli

6.   Yang dikomunikasikan kepada konseli berupa empati maupun penghargaan positif tak bersyarat adalah komunikasi yang sesedikit mungkin bisa diterima oleh konseli

 

Dalam konseling menggunakan metode person-centered therapy, yang harus ditunjukkan konselor pada konseli adalah tiga hal yang paling utama, yaitu :

1.   Unconditional Positive Regard(Penerimaan Positif tanpa Syarat/Acceptance)

Unconditional positive regard adalah suatu keadaan yang sama dengan acceptance, menghormati serta menghargai. Meliputi penegasan pada nilai-nilai konseli sebagai bagian dari manusia atau organisme yang berpikir, merasa, percaya dan makhluk yang menyeluruh, diterima oleh konselor dalam kondisi apapun tanpa syarat tertentu. Person-centered therapy percaya jika konselor mampu menerima konseli apa adanya, maka konseli akan mulai berpikir mengenai siapa dirinya sebenarnya, dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Dengan menunjukkan sikap acceptance seperti apapun konselinya, maka konselor mengajak konseli untuk mulai menerima dirinya sendiri.

2.   Empathy (Empati)

Empati adalah suatu keadaan di mana konselor berusaha untuk ikut merasakan apa yang konseli rasakan, ikut masuk ke dalam dunia konseli, ikut melihat dan mengalami apa yang dilihat dan dialami oleh konseli tetapi tidak ikut hanyut dalam dunia atau kerangka berpikir konseli tersebut.

Macam-macam empati :

a.   Empati intelektual, termasuk melihat dunia dari perspektif konseli dalam lingkup intelektual

b.   Empati emosi, terjadi ketika secara alamiah atau spontan, konselor mulai merasakan emosi dalam merespons dunia konseli dalam lingkup emosi

c.   Empati imajinasi, termasuk bertanya pada diri sendiri “Bagaimana jika saya berada pada posisi konseli saya?”

3.   Congruence (Kongruen/ Asli/ Genuine)

Kongruen didefinisikan sebagai ke otentikan atau keaslian dari diri konselor. Kongruen yang dilakukan oleh konselor adalah benar-benar suatu kenyataan, keterbukaan, dan kejujuran. Kongruen diartikan pula bahwa konselor mampu mengekspresikan kedua hal baik positif maupun negatif pada konseli.

 

Tujuan Konseling

      Tujuan utama pendekatan person-centered therapy adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu konseli menjadi pribadi yang utuh, yaitu pribadi yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dirinya. Tidak ditetapkan tujuan khusus dalam pemdekatan person-centered, sebab konselor digambarkan memiliki kepercayaan penuh pada konseli untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dari dirinya sendiri.

      Secara lebih terperinci, tujuan konseling person-centered adalah :

1)      Membantu konseli untuk menyadari kenyataan yang terjadi terhadap dirinya

2)      Membantu konseli untuk membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru

3)      Menumbuhkan kepercayaan diri konseli

4)      Membantu konseli membuat keputusan sendiri

5)      Membantu konseli menyadari bahwa manusia tumbuh dalam suatu proses

 

http://beaprofessionalcounselor.blogspot.com/2011/02/person-centered-therapy-terapi-berpusat.html

http://www.konselorsekolah.com/2012/12/person-centered-therapy.html

Dwi Permata Sari Lutan

12510202

3pa02

Terapi Humanistik

Dwi Permata Sari Lutan

12510202

3PA02

Link:

 

 

 

Humanistik Eksistensial

 

Psikologi Eksistensial atau sekarang berkembang dengan nama psikologi Humanistik atau psikologi holistic berawal dari kajian filsafat yang diawali dari Sorean Kierkigard tentang eksistensi manusia. Sebelum psikologi modern membuka dirinya pada pemikiran (school of thought) berbasis emosi dan spiritual yang transenden, psikologi terlebih dahulu dipengaruhi oleh ide-ide humanistik. Psikologi humanistik berpusat pada diri, holistik, terobsesi pada aktualisasi diri, serta mengajarkan optimisme mengenai kekuatan manusia untuk mengubah diri mereka sendiri dan masyarakat. Terdapat gerakkan eksistensialisme pada abad 19 yang dikemukakan oleh seorang filsuf bernama Søren Kierkegaard. Dalil utama dari eksistensialisme adalah keberadaan (existence) individual manusia yang dialami secara subjektif

Istilah eksistensi berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Dengan istilah in hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai sesuatu yang “mengada”.

 

Konsep-konsep utama :
            1.   Kesadaran diri

Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.

Semakin besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya untuk memilih altrnatif-alternatif.

Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab.

Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

            2.   Kebebasan, tanggung jawab dan  kecemasan

Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing)

            3.   Penciptaan Makna

Manusia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.

Menjadi manusia juga berarti  menghadapi kesendirian.

Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna.

Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia bisa menjadi “sakit”.

 

 

 

Proses Terapi dan Tujuan :

Bugental (1965) menyebutkan bahwa ke otentikan sebagai “urusan utama psikoterapi”  dan “nilai eksistensial pokok” terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :

1.   Menyadari  sepenuhnya keadaan sekarang

2.   Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang

3.   Memikul tanggung jawab untuk memilih.

Klien yang neurotic adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapi adalah membantunya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiaannya yang hilang.

 

Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah :

1.   Meluaskan kesadaran diri klien

2.   Meningkatkan kesanggupan pilihannya

3.   Menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.

 

Fungsi dan Peran Terapis :

Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :

¤  Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi

¤  Menyadari peran dan tanggung jawab terapis

¤  Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.

¤  Berorientasi pada pertumbuhan

¤  Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.

¤  Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.

¤  Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.

¤  Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.

¤  Bekerja kea rah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

Teknik-teknik dan Prosedur Terapi :

Tidak ada teknik tertentu yang ditentukan secara ketat. Metode-metode yang berasal dari Gestalt dan analisis transaksional sering digunakan. Mengintegrasikan metodologi dan konsep-konsep psikoanalisis.

 

Sumber:

http://dodydanpsikologi.blogspot.com/2012/01/pendekatan-eksistensial-humanistik.html

http://www.psychologymania.com/2011/09/psikologi-eksistensial.html